Diare, Reaksi Alami

Hanya diare plus darah yang harus diobati.

Boleh dibilang hampir semua orang pernah merasakan derita akibat buang air besar berkali-kali alias diare. Biasanya, yang terpikir dalam benak setiap orang adalah obat untuk memampatkannya alias yang beraksi stop diare. Solusi seperti itu diperkuat oleh tayangan komersial yang menyarankan untuk menghentikan gejala tersebut dengan cara menelan obat pemampat. Pada orang dewasa, kondisi ini sudah bisa membuat orang menderita, apalagi pada anak-anak. Lazimnya, jalan keluarnya pun sama.

Saat ini, ada sederet obat diare untuk anak yang kerap diberikan kepada para bocah. Sebut saja kaolin, smectite (Smecta), LactoB, atau obat jamur dan antibiotik. Bertolak belakang dengan saran iklan di layer televisi, obat stop diare justru tidak diperlukan. Dr Zakiudin Munasi, SpA(K) menyebutkan diare adalah reaksi alami ketika ada “benda asing” yang masuk ke tubuh. Ia menjelaskan, ketika ada racun menerobos ke dalam tubuh, otomatis ada respons dari tubuh. Nah, aksi yang muncul adalah mengeluarkan racun tersebut dengan cara buang air besar. Sering kali harus berkali-kali.

(more…)

Susah Buang Air Besar pada Bayi

Susah buang air besar (konstipasi) adalah gangguan yang kerap terjadi pada bayi. Gejalanya, selain sulit buang air besar, adalah
tinja keras, nyeri di daerah anus, bahkan keluar darah segar akibat perlukaan anus.

Menurut definisi, konstipasi adalah kesulitan buang air besar selama dua minggu atau lebih. Tetapi, pada bayi yang mengkonsumsi susu formula, buang air besar yang keras 2 – 4 hari sekali sudah dianggap konstipasi. Lain halnya pada bayi yang mengkonsumsi ASI, walaupun buang air besarnya 2 – 5 hari sekali (asal konsistensi tinjanya lembek), tidak dianggap konstipasi.

Beberapa hal yang menjadi biang keladi sulit BAB pada bayi adalah :

  1. Asupan (intake) cairan kurang, sehingga timbul dehidrasi.
  2. Susu formula dengan kadar zat besi tinggi.
  3. Susu formula dengan kandungan lemak nabati misalnya kelapa sawit.
  4. Pembuatan susu formula terlalu pekat.
  5. Pola makan yang tidak seimbang, yaitu lebih banyak konsumsi lemak, karbohidrat, dan kurang makanan yang mengandung serat.
  6. Perubahan pola makan, seperti saat bayi diperkenalkan dengan makanan padat.
    (more…)